TEMBANG DOLANAN ANAK BERBAHASA JAWA KHAS TAMANSISWA MEMBENTUK KARAKTER LUHUR ANAK-ANAK

Tembang  dolanan  anak  berbahasa  Jawa  memiliki  nilai-nilai  luhur  budaya leluhur yang mampu membentuk karakter luhur anak-anak Indonesia. Tembang dolanan ini mempunyai nada, cengkokan dan lirik yang pendek dan sangat sederhana selaras dengan tingkat kejiwaan anak-anak sejak usia dini.  Tembang dolanan ini merupakan sarana anak-anak untuk bersenang-senang dalam mengisi waktu belajar maupun waktu luang dan juga sebagai sarana komunikasi yang mengandung pesan mendidik.

Tembang dolanan anak merupakan suatu hal yang unik dan menarik karena sesuai dengan perkembangan jiwa anak yang masih suka bermain, berceloteh dan berbicara secara senang bergembira tanpa beban. Didalamnya juga mengandung ajaran-ajaran atau nilai-nilai moral budi pekerti yang sangat berpengaruh terhadap karakter anak bangsa.

Konsep edu-tainment, yang menyampaikan unsur pendidikan secara menghibur  telah lama diterapkan perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara sejak tahun 1922. Proses internalisasi pesan-pesan mendidik dalam tembang dolanan anak-anak menyalir otomatis dalam setiap lirik dan cekokannya serta tercermin serta terwujud dalam tutur dan perilaku keseharian anak.

Namun  sayangnya,  tembang  dolanan  anak-anak  berbahasa  Jawa pada  saat  ini  kurang  mendapatkan  perhatian  dari  pemerintah  maupun instansi   terkait, bahkan orang Jawa sendiri.   Pada   akhirnya   anak-anak   dan orang tua sekarang   kurang   mengenal tembang  dolanan  Jawa  sehingga  tembang  dolanan  berbahasa  Jawa  ini kurang diminati dan tergerus oleh zaman.

Pada jaman modern yang mempunyai perangkat ilmu teknologi canggih seperti saat ini, permainan modern terbaru: Play station, Pokemon Go dsb melalui telepon canggih menjadi lebih menarik dan menantang bukan hanya bagi anak-anak namun juga orang dewasa dan orang tua. Nilai petualangn pribadi, ego, kompetisi dan menang sendiri menjadi lebih dominan. Karakter anak bangsa yang terbangunpun menjadikan anak-anak lebih individualistik, ego, menang sendiri,

Dengan melihat kenyataan yang ada sekarang ini, kita harus berupaya kuat demi kelestarian budaya dan kesenian tradisional yang hampir punah. Tembang dolanan sebagai warisan nenek moyang yang mempunyai nilai-nilai luhur harus terus dilestarikan. Untuk itu, Workshop Kader Dolanan Anak Khas Tamansiswa ver 1.0 (Tingkat Dasar), telah diadakan pada hari Sabtu, 6 Agustus 2016 bertempat di Gedung dan Pendapa Agung Tamansiswa Jl. Tamansiswa 25 Yogyakarta. Didukung oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yayasan Tamansiswa Jetis, Gudheg Wijilan Bu Lies, PASTY, Alumni & Pemerhati Tamansiswa. Panitia penyelenggara acara ini diketuai Listyo H. Krisnarjo, bersama gabungan putra wayah menantu pamong serta alumni & pemerhati Tamansiswa. Penasehat  Nyi Endang Oengki Soekirno, Nyi Corijati Mudjijono, Ki Priyo Dwiarso. Narasumber Pengenalan Tembang : Ki Saridal, Pemaknaan Tembang : Dr. Sri Ratna Saktimulya, & Penyusunan Naskah Pentas : Ki Priyo Dwiarso, sedang praktek dibimbing langsung oleh Nyi Tri Yulianti, Ki Setyaji (Kyai Kanjeng), dan Ki Joko (Kyai Kanjeng).

Workshop ini dilatar belakangi adalah keprihatinan putra wayah pamong Taman Siswa untuk mengembalikan lagi metode pendidikan khas Ki Hadjar Dewantara di Tamansiswa. Metode ini sangat jelas terpahat di anak tangga Pendapa Agung  Tamansiswa “Amboeka Raras Angesti Widji”, yang bermakna “Kesenian Menjadi Pepucuk dari Pendidikan”. Dengan demikian, olah seni yg notabene menyenangkan & membiasakan rasa keindahan pada anak harus diterapkan menyatu dalam setiap materi pelajaran, metode inilah yang memperhalus budi pekerti anak, bukan pelajaran sampingan/terpisah.

Bahwa memenuhi materi dasar berupa Pengenalan Tembang, Penyusunan Naskah Cerita Tematik,  Pemilihan Tembang, Tata Gerak  & Implementasi Iringan gamelan. Prinsip Kerja Workshop 1.0 agar efisien & efektif  mengelola 5 tembang pilihan menjadi berbagai cerita tematik yang mampu dipentaskan. Namun belum menyentuh iringan Gamelan & Kostum.

Workshop ini diproyeksikan berkelanjutan, setelah workshop peserta per bagian/ kelompok akan diberi tugas/PR berupa pementasan dolanan anak di bulan Oktober 2016, dan puncaknya kolaborasi pementasan dolanan anak di bulan Desember 2016 (Kongres Tamansiswa). Dan di Tahun 2017 akan diadakan Workshop lanjutan ver 2.0 yang pesertanya akan diproyeksikan mampu menularkan ilmu dolanan anak ini kepada guru-guru lainnya di tingkat TK-SD-SMP-SMA.

Dulu para pamong ketika terlihat anak capek berpikir pelajaran Matematika, akan mengajak anak untuk menembang “Lamun Sayah”. Saat anak ramai di kelas, maka pamong akan menyanyikan tembang dolanan anak-anak “Hei Kae Kae Apa?”  menyelipi tembang “Kae Ketok Iwake”. Saat pulang sekolah setelah berdoa sambil nembang “Ayo tuku kluwih, kluwih dinggo njangan ayo padha mulih ..”. Dan masih banyak lagi tembang dolanan anak-anak yang selalu disenandungkan dalam proses pembelajaran dan kehidupan nyata, sehingga anak menikmati menikmati betul pendidikan di Tamansiswa yang menyenangkan dan membangun karakter luhur anak bangsa.

 

Prof. Dr. Cahyono Agus

–  Guru Besar UGM Yogyakarta

– Anggota PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa)

–  HP: 081 5688 8041

–  Email: acahyono@ugm.ac.id

–  Web: acahyono.staff.ugm.ac.id