DESAIN DAN POLA PENGELOLAAN SISTEM PERTANIAN BIO-SIKLUS DALAM MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI Oleh Prof. Cahyono Agus

Paper utama dalam Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXIV tahun 2014, 4 Nopember 2014, Makasar:

DESAIN DAN POLA PENGELOLAAN SISTEM PERTANIAN BIO-SIKLUS DALAM MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DAN ENERGI

Cahyono Agus
KP4 UGM, Jl Tanjungtirto Yogyakarta 55571
Fakultas Kehutanan UGM, Bulaksumur Yogyakarta 55161
Email: cahyonoagus@gadjahmada.edu

I. KEDAULATAN PANGAN DAN ENERGI NASIONAL
Produktivitas biomassa di Indonesia yang merupakan wilayah tropika tergolong tertinggi di dunia (750 g C.ha-1.th-1), karena tingginya jumlah dan distribusi curah hujan, temperatur udara, temperatur tanah, kelembaban udara, resim lengas tanah (Agus, 2012). Meskipun tanah tropika tergolong tua dan miskin hara, tetapi karena didukung oleh tingginya aktivitas mikroorganisme dan cepatnya siklus tertutup, maka pertumbuhan vegetasi di atasnya tergolong cepat, 10 kali lipat dibanding wilayah temperate. Namun demikian, produktivitas ekonomi di wilayah tropika jauh lebih rendah dibanding wilayah temperate, karena pengelolaan biologi yang belum efisien dan efektif, sehingga kita harus mengimpor pangan dari negara yang mempunyai produktivitas lahan jauh lebih rendah.
Meskipun Presiden SBY telah mencanangkan surplus pangan tahun 2014, namun, nilai impor non mgas pada periode Januari–Agustus 2014 berupa makanan industri sebesar USD 2,2 milyar; serealia sebesar USD 2,2 milyar dan kapas sebesar USD 1,6 milyar (BPS, 2014). Secara kumulatif nilai impor migas pada periode yang sama mencapai US$ 29,37 miliar.
Saat ini sekitar 60% kemiskinan di Indonesia berada di pedesaan, dan lebih dari 70% kemiskinan pedesaan tersebut terkait dengan pertanian. Perbaikan kondisi pertanian berupa strategi, regulasi, implementasi, teknologi, manajemen, kelembagaan dan sebagainya, akan memperbaiki seluruh aspek dan sendi kehidupan yang terlibat.
Program kemandirian pangan dan energi terkesan mandul diimplementasikan karena kesalahan pengelolaan 6M (man, money, material, machine, method, management), yang membajak secara tersistem, terstruktur dan masif, berupa ketidak-jelasan program, mafia proyek, pemburu rente ekonomi, kelembagaan yang lemah, mendahulukan keuntungan pribadi dan kepentingan golongan, pengabaian tugas, orientasi proyek semata, kendala administrasi, kelemahan monitoring evaluasi, perubahan iklim,
Eksplotasi sumber daya alam yang berlebihan telah mengakibatkan tragedi menyedihkan karena bencana lingkungan dan kemanusiaan, telah menjadi kenyataan menyakitkan yang sulit dibantah dan ternyata tetap selalu berulang. Sumber daya alam masih dikelola sebagai warisan nenek moyang dalam pembangunan nasional dengan konsep resource based development, sehingga harus dimulai dengan paradigm baru pengelolaan sumber daya alam yang berbasis knowledge based development, melalui produksi iptek, alumni dan invensi, konsep pembangunan berkelanjutan yang cerdas, inovatif, luas, mendalam dan futuristik (Agus, 2012). Untuk itu, diperlukan paradigma baru untuk menciptakan pengelolaan sumber daya alam dan manusia yang mampu mendukung lingkungan dan kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan.
II. PENGALAMAN PENERAPAN TEKNOLOGI SIAP GUNA SYSTEM PERTANIAN-BIOENERGI/BIOREFINERY
Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai perguruan tinggi terbesar di Indonesia harus menempatkan diri pada posisi terkemuka dan menjadi trend setter pendidikan tinggi. Tuntutan dan harapan masyarakat, mendorong UGM untuk berusaha menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat dan menaikkan daya saing bangsa. KP4 sebagai university farm UGM diberdayakan sepenuhnya sebagai wahana untuk tranfer pengetahuan (transfer of knowledge), ketrampilan (skills) dan nilai-nilai luhur (values) di bidang pertanian terpadu dengan praktek langsung di lapangan. KP4 yang telah berkembang menjadi Field Campus for Life and Environtmental Sciences yang berkelas internasional dengan cara mengaktualisasi diri dalam bidang agrokomplek dan berbagai bidang ilmu terkait serta dengan mengembangkan jaringan Academic Bussines Community & Government (ABCG) yang lebih intensif.
Riset-riset applicative-collaborative, innovative-inventive, serta multi-, inter-, intra-disipliner telah dikembangkan oleh berbagai peneliti dari berbagai fakultas di UGM, dengan berbagai skema pendanaan penelitian, baik luar maupun dalam negeri, untuk dijadikan landasan penerapan research based learning and services (pembelajaran dan pengabdian berbasis penelitian) di UGM. Program IM_HERE (Indonesia Managing_Higher Education for Relevancy and Efficiency) dengan sumber dana Word Bank melalui Ditjen Dikti Kemendikbud, untuk mengembangkan EfSD pada beberapa pusat unggulan terpilih, terutama biodiversitas anggrek, herbal medicine dan REDD.
Model agroforestry melalui Integrated Bio-cycle Farming System (IBFS/ sistem pertanian siklus-bio terpadu) yang dikembangkan oleh KP4 UGM dilakukan dengan beberapa kajian lebih mendalam melalui: ICM (Integrated Crop Management atau Pengelolaan tanaman terpadu), INM (Integrated Nutrient Management atau pengelolaan hara terpadu), IPM (Integrated Pest Management atau pengelolaan hama terpadu) dan IMM (Integrated Moisture Management atau pengelolaan air terpadu). Siklus energi, siklus bahan organik, dan karbon, siklus air, siklus hara, siklus produksi, siklus tanaman, siklus material dan siklus uang perlu dikelola secara terpadu dan berkelanjutan dengan pola 7R (reuse, reduce, recycle, refill, replace, repair, replant) dengan mempetimbangkan gatra ekonomi, lingkungan, sosial budaya dan kesehatan untuk mendapatkan manfaat optimal bagi petani, masyarakat di bidang pertanian dan lingkungan global (Agus, 2012)..

III. GAMA PERTANIAN TERPADU
Perubahan paradigma baru dari Tri Darma PT yang tadinya meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdiri sendiri-sendiri akan disinergiskan menjadi Research and Services based learning. Kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan UGM mengharuskan pembelajaran menekankan pada mahasiswa agar dapat mengerti (Learn to know), mengerjakan sendiri (Learn to do), menjadi aktor (Learn to be) dan bekerja bersama (Learn to work together), sehingga lulusannya mempunyai kompetensi (competence), komitmen (committment), keberpihakan (compassion)), dan nurani (conscience) terhadap masyarakat awam. KP4 sebagai kampus lapangan UGM perlu diberdayakan sepenuhnya sebagai wahana untuk tranfer pengetahuan (Transfer of knowledge), ketrampilan (Transfer of skills) dan nilai-nilai luhur (Transfer of values) melalui pembelajaran langsung di bidang pertanian dan lingkungan tropika.
Pendidikan (formal, nonformal dan informal) bercirikan Education for Sustainable Development (EfSD) merupakan instrumen kuat yang efektif untuk melakukan komunikasi, memberikan informasi, penyadaran, pembelajaran dan dapat untuk memobilisasi massa/komunitas, serta menggerakkan bangsa ke arah kehidupan masa depan yang berkembang secara lebih berkelanjutan. EfSD menyisipkan wawasan dan konsep secara luas, mendalam dan futuristik tentang lingkungan global dengan memberi kesadaran dan kemampuan kepada semua orang (utamanya generasi mendatang) untuk berkontribusi lebih baik bagi pengembangan berkelanjutan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Paradigma baru pertanian harus memberdayakan segenap multi-fungsi pertanian sebagai pemasok utama sandang, pangan, dan papan bagi kehidupan seluruh makluk hidup; juga sebagai gatra lingkungan hidup yang berkelanjutan, penyedia keindahan lingkungan (wisata-agro), penghasil bio-farmaka dan penghasil bio-energi. Untuk itu, pertanian harus dibangun dengan menghilangkan ego-sektoral, sehingga harus dikembangkan secara harmonis dengan penggunaan lahan lain untuk kehutanan, perkebunan, hortikultura, pemukiman, lingkungan hidup, pertambangan, infrastruktur, industri, pariwisata maupun sektor lain dalam satu kesatuan landscape ecological management, secara horizontal maupun vertikal.
KP4 UGM Yogyakarta mengembangkan Pusat Unggulan (Center of Excellence) berupa Integrated Bio-cycle Farming System (IBFS/ sistem pertanian siklus-bio terpadu), yang mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development), dengan mengelola sumber daya lahan (tanah, air, udara, temperature, dsb), sumber daya hayati (binatang, tumbuhan, manusia dan makluk hidup lain) dan sumber daya lingkungan (hubungan antar makluk dsb) secara optimal. Program ini mempunyai ciri pokok dan merupakan pengejewantahan program Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development) yang harus memperhatikan gatra peningkatan nilai ekonomi, kelestarian lingkunga, keadilan sosial dan budaya, secara sinergis dan optimal. Keseimbangan produksi dan konsumsi merupakan salah point yang harus dikembangkan, sehingga dalam satu kesatuan lahan tersebut mampu memproduksi pangan, pakan, papan, pupuk, air, oksigen, obat herbal, wisata dan lainnya (Agus, 2012).
Gambar 1. Pengembangan Pusat Unggulan GAMA PERTANIAN TERPADU (Agus, 2012)

Pemanfaatan lahan secara harmonis, menyeluruh (holistic) dan terpadu (integrated) serta berkelanjutan (sustainable) untuk berbagai peruntukan, yaitu: (i) produksi biomassa (sektor pertanian), (ii) lingkungan hidup (iii) habitat biologi dan konservasi gen. (iv) ruang infra-stuktur, (v) sumber daya alam, dan (vi) estetika dan budaya, merupakan ciri utama dalam sistem IBFS. Masing-masing anasir bentang lahan tidak boleh saling menonjolkan kepentingan sektoral sendiri saja namun harus saling berkaitan dan mendukung secara harmonis. Output dan outcomes sistem lebih diutamakan dibandingkan keluaran masing-masing anasir pembentuknya. Karakteristik kunci dari IBFS yang dikembangkan di KP4 UGM adalah meliputi 9 anasir utama sebagaimana yang tertera dalam Tabel 1. IBFS merupakan integrasi dari sektor pertanian dan non-pertanian, melalui pendaur ulangan bahan organik yang berasal dari sector pertanian maupun non-pertanian secara terpadu. Suplai makanan yang diproduksi dari desa untuk dikirim ke kota telah mengakibatkan defisit bahan organik di desa, sehingga tumpukan bahan organik di kota perlu diaur ulangkan ke system pertanian yang banyak terdapat di desa (Agus, 2012).

Tabel 1. Karakteristik kunci sistem pertanian terpadu IBFS yang dikembangkan di
KP4 UGM dibandingkan dengan berbagai tipe sistem pertanian berkelanjutan
LOW INPUT /INTEGRATED
(pertanian input rendah/ terpadu) ORGANIC FARMING
(pertanian organik) BIO-DYNAMIC
(pertanian bio-dinamik) AGROFORESTRY
(agroforestri) INTEGRATED BIO-CYCLE
(Pertanian siklus-bio terpadu)
integrasi proses alami yg menguntungkan Integrasi tanah, lingkungan dan kesehatan manusia Pengelolaan organisme yg optimumkan kualitas tanah & tanaman, hewan dan kesehatan manusia Integrasi tnm kayu dan herbal Integrasi pertanian & non pertanian
Menambah nilai lingkungan Pupuk alami.
Nilai lingkungan Nilai ekonomi Nilai lingkungan Nilai lingkungan, estetika, ekonomi
Rotasi tanaman Rotasi tanaman, diversifikasi spatial ideal Rotasi tanaman, diversivikasi spatial ideal Spatial diversitas tipe crop Rotasi & divesitas tnm
Dampak pengolahan tanah minimum Kecukupan N melalui fikasasi-N Kecukupan N melalui fikasasi-N,
Persiapan khusus utk peningkatan kualitas tanah dan kehidupan tanaman Variasi tanaman dan sistem pastoral Bio-teknologi, nanoteknologi, pro-biotik
Penggunaan pupuk kimia Larangan perlakuan tanaman dan pupuk Larangan perlakuan tanaman dan pupuk Pemupukan pada tanaman pertanian, pemanfaatan siklus pada tanaman kehutanan Pengelolaan siklus organik scr tertutup & terpadu dlm satu wil terpadu, berupa tanaman (ICM), hama (IPM), lengas (IMM), hara (INM), ternak (IVM) terpadu
Penggunaan pestisida Pengelolaan hewan traditional Pengelolaan hewan traditional Pengelolaan bio-alam terpadu
Prinsip umum Prinsip unit pengelompokan Prinsip unit pengelompokan Prinsip umum Lanscape ecological management, konsep agropolitan
Pengelolaan tapak-tanaman secara spesifik Pengelolaan tapak-tanaman secara spesifik Pengelolaan tapak-tanaman secara spesifik Pengelolaan tapak-tanaman secara spesifik Pengelolaan tapak-tanaman secara spesifik
Semi-tradisional Alami terpadu tradisional Menyeluruh & terpadu
Stockdale & Cookson (2003), Chan, (2006) IFOAM (1998), Koept et al (1976), Stockdale & Cookson (2003) Agus ( 2012)

IBFS mengedepankan nilai lingkungan, nilai estetika, nilai sosial, nilai budaya dan nilai ekonomi secara harmonis dan seimbang, tanpa ada yang mendominiasi. Dengan demikian bukan melulu mementingkan nilai ekonomi semata sehingga terpaksa menghilangkan faktor lainnya, seperti yang dilakukan oleh praktis bisnis pertanian yang dilakukan oleh pengusaha besar, namun harus mampu mengharmoniskan seluruh aspek yang muncul. IBFS juga dilakukan dengan sistem rotasi dan keaneka-ragaman tanaman, sehingga biodiversitas dan siklus tanaman tetap terjaga dan terpelihara untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bagi kehidupan dan lingkungan. Inovasi besar di bidang bio-teknologi buatan dan fungsional, nanoteknologi, dan pro-biotik merupakan terobosan besar yang harus dilakukan agar terjadi revolusi kehidupan dan lingkungan bermartabat yang makin berkualitas dan berkelanjutan. Loncatan kualitas kehidupan dan lingkungan pada level yang lebih tinggi dan baik dapat dicapai dengan pemberdayaan bio-nano-teknologi probiotik yang fungsional agar siklus dan kualitas kehidupan makin meningkat (Agus, 2012).
Pengelolaan siklus tertutup organik dan integrasi dalam suatu kawasan terpadu antara ICM, IFM, IPM, IMM, INM merupakan ciri utama dalam IBFS agar terjadi sistem daur tertutup yang mandiri dan berkualitas. Pengelolaan perlindungan bio terpadu dan pengelolaan ekosistem kesehatan, merupakan syarat mutlak agar konsep kembali alam dengan produktivitas serta kualitas hidup dan lingkungan yang lebih baik bisa terjamin dan berkelanjutan. Manajemen ekologi lanskap terpadu dan konsep agropolitan merupakan salah satu strategi penghilangan kotak-kotak egosentris dalam IBFS, sehingga tidak lagi mementingkan ego sektor sendiri-sendiri, namun justru harus bersinergis. Dengan demikian pengelelolaan bahan organik harus dikelola dalam satu kesatuan lahan yang terpadu. Pengelolaan khusus tanaman perlu juga dilakukan karena masing-masing spesies tanaman mempunyai karakter hidup dan produktivitas sendiri-sendiri. Selanjutnya, IBFS harus dikelola dalam suatu sistem holistik dan terintegrasi (Agus, 2012).

IV. GAMA PANGAN
Pengembangan GAMA PANGAN di KP4 UGM Yogyakarta dilaksanakan melalui program 5A, yang terdiri atas: AGRO-PRODUKSI, AGRO-BISNIS, AGRO-TEKNOLOGI, AGRO-INDUSTRI, AGRO-WISATA untuk komoditas unggulan dari hulu dan hilir dalam satu kesatuan wilayah, waktu dan sistem pengelolaan secara terpadu. Inovasi di bidang Agro-Produksi harus mampu menghasilkan produk dengan 3K (kuantitas, kualitas dan kontinyuitas) yang memadai sehingga menjadikan komoditas pertanian sebagai sumber kehidupan dan lingkungan yang memadai. Dengan demikian diharapkan akan tercapai 7 W (WAREG, WARAS, WASIS, WASKITO, WISMO, WUSONO lan WIBOWO).
Pengembangan Agro-Bisnis menjadi sangat penting agar komoditas pertanian akan dapat berperan secara modern, tidak terjebak dalam sistem tradisional yang bersifat sub sistem dan menjadikan pelakunya lebih sejahtera, bukan sebagai perahan sector ekonomi lain. Inovasi Agro-Teknologi merupakan syarat mutlak agar dengan teknologi tepat guna dan bio-teknologi yang sesuai, maka akan terjadi revolusi baru di bidang pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Agro-Industri merupakan penghiliran produk pertanian agar fluktuasi musim panen pertanian yang sangat merugikan masyarakat pertanian dapat ditingkatkan menjadi komoditas prioritas, karena merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh seluruh makluk hidup di bumi ini. Agro-Wisata merupakan pemberdayaan lahan untuk pendidikan agar setiap makluk hidup mampu menikmati dan berkontribusi nyata dalam pemenuhan kebutuhan hidup dan perbaikan lingkungan hidup. Keberhasilan program juga harus didukung oleh semua pihak sehingga tidak bisa dibebankan kepada petani semata, namun harus terjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan, melalui jaringan ABCG (Academic atau Akademisi dan Peneliti, Business atau swasta, Community atau masyarakat, Government atau pemerintah), dengan masing-masing pihak harus berkontribusi nyata sesuai dengan peran nyata (Agus, 2012).
Program percepatan pertumbuhan optimal (Accelerated Optimal Growth) didukung peningkatan genetik dan perbaikan lingkungan tempat tumbuh (Agus, 2012). KP4 UGM mengaplikasikan percepatan pertumbuhan optimal secara sinergis melalui peningkatan sifat genetik (GAMA MELON, GAMA ANGGREK, GAMA PADI, GAMA SAPI BALI, GAMA JAGUNG, GAMA AYAM dsb) dan rekayasa lingkungan pertumbuhan tanaman (GAMA POT ORGANIK, GAMA BIOGAS, GAMA PERTANIAN TERPADU, GAMA LIMBAH ORGANIK, GAMA-DEC dsb).

V. GAMA BIO-ENERGI
Sehubungan dengan pentingnya sumber energi murah untuk menjadi bagian yang terintegrasi dari siklus bio, unit produksi biogas untuk mengubah limbah pertanian (terutama limbah ternak berupa pupuk kandang) menjadi bentuk yang berguna bahan bakar berkelanjutan. Bahan organik dapat dilakukan siklus dengan baik dan dioptimalkan melalui GAMA DIGESTER, GAMA PEMURNIAN dan GAMA KOMPRESI dalam IBFS untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dengan nilai tambah lingkungan, ekonomi dan sosio-budaya (Agus et al., 2011).
KP4 UGM melakukan studi energi bio-hidrogen menggunakan bakteri E. aerogene, tersirat bahwa penggunaan bahan substrat sampah organik bisa lebih efektif dan memiliki dampak yang lebih menguntungkan lingkungan daripada monosakarida murni. Produksi Bio-hidrogen melalui proses biologis dapat dilakukan dengan biophotolysis, fermentasi gelap, dan fermentasi foto. Agus et al., (2014) menyimpulkan bahwa fermentasi dan produksi bio-hidrogen dioptimalkan setelah 24 jam, dengan tertinggi pada konsentrasi substrat 20%.

VI. PENGALAMAN PENGEMBANGAN MELIBATKAN PETANI KECIL
– Program KKN PPM UGM
Pergeseran paradigma TRIDHARMA di UGM, dari semula: Pendidikan, Penelitian dan Pengab-dian kepada Masyarakat secara sendiri-sendiri, menjadi lebih terintegrasi menjadi Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat berbasis Riset. Dengan demikian, UGM mempunyai Program KKN dengan paradigma pemberdayaan berupa Program KKN-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (Program KKN-PPM) yang berbasis Riset melalui pendekatan multidisipliner. Kegiatan ini bersifat wajib (3 SKS) bagi mahasiswa S1, sehingga setiap tahun terdapat sekitar 7.000 mahasiswa diterjunkan ke masyarakat selama 2 bulan. Dengan paradigma pemberdayaan ini, maka harus mengikuti prinsip-prinsip: win-win solution, co-creation, co-fiancing, flexibility, sustainability. Hasil dan dampak dari tema program harus terukur untuk menjamin terjadinya sustainable improvement dari tema. Program harus dilaksanakan melalui kolaborasi/kerjasama antara UGM dan Pemda, industri, asosiasi profesi, dll.
Pergeseran Paradigma Program KKN, dengan tujuan: (a) Meningkatkan empati dan kepedulian mahasiswa, (b) Menjamin keberlangsungan tema program, baik dilaksanakan oleh komunitas maupun oleh mahasiswa/llulusan dimasa mendatang. Perubahan menyolok dari Program KKN menjadi KKN-PPM adalah dari Top down menjadi Bottom up, dari Work for community menjadi Work with community, dari No theme menjadi Based on theme or research, dari Development paradigm menjadi Empowerment paradigm
– Program RCE
UGM dan DIY merupakan pendukung utama aktivitas Yogyakarta Regional Center for Expertise (RCE-Yogyakarta). Acknowledgement dari UNU diberikan ke UGM per tanggal 31 August, 2007 dengan Pembentukan Community Empowerment Center (CEC) disetiap Kabupaten/Kota di DIY. Tujuan dan expert dari RCE-Yogyakarta adalah Penurunan kemiskinan melalui Pemberdayaan Masyarakat dengan konsep EfSD. Pelaksanaan melalui Program KKN-PPM dengan fokus tema, a.l.: (a) Pendidikan Dasar dan Pelatihan: PBA (menggunakan bahasa ibu), pendididkan life-skills, pelatihan guru,dll. (b) Pelatihan manajemen dan penguatan teknologi dari UKM, (c) Eksplorasi, eksploitasi, dan manajemen penyediaan air bersih, (d) Manajemen dan pengembangan energi (mikro-hidro, biogas, briket, dll.) (e) Pengembangan Desa Agro-forestry, (f) Integrated farming, (g) Pencegahan dan deteksi dini bencana, dll.

– Program Early Recovery Assistance (ERA) korban Gempa Jogja dari UNDP
Pedukuhan Puton. Trimulyo, Jetis Bantul yang merupakan korban utama jalur utama Gempa Jogja 27 Mei 2006, sehingga mengalami kerusakan sangat parah bagai bumi hangus, dengan rincian hampir seluruh rumah roboh dan rusak berat sebanyak 308 (90%), rumah rusak sedang 27 (8%), rumah rusak ringan: 7 rumah (2%). Belum semua KK mendapat penanganan serta memperoleh bantuan memadai untuk rumah sementara, sedangkan sumber penghidupan masyarakat telah hilang. Namun masyarakat masih mempunyai harapan dan komitmen untuk segera bangkit membangun sendi-sendi kehidupan. KP4 UGM mendapat hibah kompetitf dari United National Development Program (UNDP) untuk melakukan Early Recovery Assistance dengan membangun 125 hunian sementara para korban gempa, dengan mekanisme sbb: (a) Fasilitasi dan penyediaan material untuk 125 rumah tinggal sementara sebelum rumah permanen selesai dibangun, (b) Pengontrolan kualitas rumah layak huni sebagai tempat berlindung dari cuaca (hujan, angin, panas dll) yang tidak baik, (c) Pemanfaatan kembali material bangunan tempat tinggal sementara sebagai material yang sekaligus dapat dipergunakan untuk pembangunan jangka panjang yang dilakukan secara bertahap, (d) Pemberdayaan sikap gotong royong warga untuk membangun rumah sementara dengan gerakan “bangun griyo kulo” secara bersama, (e) Pendampingan dan monitoring-evaluasi pelaksanaan melalui KKN PPM UGM.

– Program Livelihood korban Gempa Jogja dari AIP
Hibah mini untuk pemulihan sumber penghidupan masyarakat korban gempa bumi Jateng DIY dari Australian Indonesia Partnership (AIP) mendasarkan pada tiga pilar utama yaitu pemberdayaan kepribadian (personality empowerment), pemberdayaan institusi (institutional empowerment) dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment). Program pemulihan sumber kehidupan direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis melalui proses pembelajaran dan pemberdayaan yang berkelanjutan berdasarkan prioritas potensi yang ada dalam masyarakat dan mitra kerja yang berbasis wilayah maupun kompetensi. Dengan demikian, maka program ini memberikan keleluasaan bagi kemungkinan pengembangan kerja sama dengan institusi/lembaga baik pemerintah maupun swasta, masyarakat dan mitra kerja lain secara terencana dan berkesinambungan.
Prioritas pemulihan sumber kehidupan keluarga berupa industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang telah digeluti sebelum gempa dan menjadi penopang kehidupan seluruh anggota keluarga tetapi terpaksa terputus karena sarana produksi hancur, diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan perekonomian keluarga dan masyarakat. Pelaksanaan program pemulihan sumber kehidupan pasca gempa akan meningkatkan empati, kepedulian, kerjasama secara multidisipliner, kepribadian, kontribusi daya saing daerah/ nasional dan mendorong learning community/ society. Program ini ini juga dilaksanakan secara co-creation, co-finance, sustainable dan flexible.
Program yang dilaksanakan terdiri atas: (a) Mapping sarana produksi industri kecil rumah tangga secara terpadu, (b) Penguatan kelembagaan, (c) Perbaikan sarana prasaran produksi yang terpadu dan berkelanjutan, (e) Pendampingan KKN PPM intensif, terpadu dan berkelanjutan dalam pemulihan sumber kehidupan masyarakat, (f) Promosi, Perbaikan kemasan produk dan perluasan pemasaran, (g) sumber pembiayaan modal usaha mikro untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, (h) Rehabilitasi tempat usaha.

– Program IPTEK bagi Masyarakat (IbM) Ditjen Dikti Kemendikbud
Melalui kompetisi hibah IPTEK bagi Masyarakat Ditjen Dikti Kemendikbud, KP4 UGM menjalankan beberapa program IbM melalui transfer teknologi Sistem Pertanian Siklus-Bio Terpadu yang dikembangkan oleh KP4 UGM Yogyakarta pada wilayah binaan. Program pengabdian masyarakat melalui transfer dan pendampingan teknologi tepat guna berupa teknologi Burger pakan sapi, pembuatan pupuk padat, pembuatan pupuk cair, dan teknologi pengolahan limbah biogas. telah dilaksanakan di kelompok ternak Rukun Desa Margoagung, Seyegan., Sleman, melibatkan mahasiswa KKN PPM UGM.
IbM juga dilakukan untuk peningkatan produksi susu di koperasi susu Sumber Rejeki di Pudak Wetan, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, melalui (a) pemberian suplementasi pakan HQFS, yang merupakan pakan yang kaya kandungan energi, protein dan Mineral (b) pemanfaatan suplementasi HQFS pada sapi perah laktasi umur 1-4 bulan awal laktasi (c) pengenalan teknologi pupuk cair, kompos dan teknologi biogas.

– Penerapan Teknologi Tepat Guna Pertanian Terpadu melalui dana DIPA
Melalui dana BOPTN UGM, maka KP4 UGM telah mengadakan hibah penelitian dan pengabdian masyarakat bagi seluruh peneliti di lingkungan UGM untuk diterapkan langsung kepada masyarakat di wilayah binaan utama sekitar kampus lapangan. Pengembangan Jaringan ABCG untuk pemanfaatan hasil penelitian teknologi tepat guna Gama Pertanian Tropika Terpadu (Agro-produksi dan lingkungan, Agro-bisnis, Agro teknologi, Agro-industri, Agro-wisata) di Laboratorium Lapangan KP4 UGM dan Mangunan.

– Program IBUC dan Minopolitan pada wilayah sekitar kampus
Program Inspiring Bulaksumur Urban Community (IBUC) dilakukan dengan mengembangkan Sabuk hijau pada Kampus Biru UGM melalui pengembangan Kampung Hijau Kreatif Inovatif (KHKI) melibatkan program KKN PPM secara berkelanjutan dengan mitra ABCG. Program pembinaan pendampingan Percontohan Kawasan Minapolitan Nasional dengan program NAWA KRIDA MINA DAYA, juga dilaksanakan bersama mitra ABCG.

VI. PEMBELAJARAN KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN DALAM SCALING UP DAN SARAN UNTUK SCALING UP
Faktor pendukung keberhasilan program jelas membutuhkan kontribusi aktif dan nyata dari seluruh stake holder. Untuk itu diperlukan keunggulan pelaksana, program, pengelolaan, keuangan dan indicator kinerja. Dengan demikian, perlu didorong agar seluruh stake holder mempunyai track record, kemampuan, kemauan, kesempatan, kewenangan, kredibiltas, kepercayaan untuk mendukung keberhasilan dan kesejahteraan bersama.
Pemberdayaan 6M (man, money, material, method, machine, management), yang SERBA TEPAT (tepat orang, tepat waktu, tepat cara, tepat tempat, tepat sasaran, tepat bentuk), melalui kerja optimal (kerja keras, kerja cerdas, kerja sama, kerja iklas, kerja tuntas) dengan cara 4K (komunikatif, koordinatif, konsolidatif dan konstruktif) yang KNPI (kreatif, normatif, produktif dan inovatif) perlu terus diupayakan, MULAI MO-LIMO (mulai dari sekarang, mulai diri sendiri, mulai dari yang sederhana, mulai dari tempat kita dan mulai dengan yang ada) agar revitalisasi pertanian benar-benar mempunyai kenyamanan hidup yang berkelanjutan bagi lingkungan dan seluruh kehidupan di bumi ini.
Keberhasilan demplot skala kecil agar mampu perluas dalam program nasional yang lebih luas, memerlukan kesiapan dan penyempurnaan berjenjang secara vertical dan horizontal, dengan mempertimbangkan local wisdom. Perlu kesiapan konsep besar, perbaikan mind set dan orientasi program, bukan berorientasi proyek, penyamaan persepsi, pemberdayaan seluruh stake holder, sesuai kebutuhan, asas bermanfaat, dari hulu hingga hilir, dengan indikator kinerja, monev internal dan eksternal, tindak lanjut dan keberlanjutan program. Indikator kunci utama keberhasilan bukanlah penyelesaian pertanggungjawaban administrasi keuangan, SPJ dan kesesuaian pelaksanaan dengan SOP belaka.
Faktor penyebab kegagalan program dan scalling up utama adalah adanya kerangka pikir dan pola kerja yang kurang mendukung program berbasis kinerja, sehingga harus segera direvolosi total. Beberapa fator utama adalah: berorientasi proyek, mementingkan kepentingan dan keuntungan sesaat, individu, kelompok, kurangnya pengawasan dan indikator kinerja dsb.

KESIMPULAN
Perlu revolusi total untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan energi yang bermartabat dan berkelanjutan, dengan program berbasis kinerja, dengan indikator perbaikan input, proses, output dan outcomes, yang terpadu, menyeluruh, tidak egosentris, dapat dirasakan secara nyata berupa kesejahteraan bersama, bermartabat dan berkelanjutan pada aspek ekonomi, lingkungan dan sosbud.
Diperlukan strong strategic, strong leadership, strong regulation, strong implementation, strong commitment, strong participation untuk menciptakan pengelolaan sumber daya alam dan manusia yang mampu mendukung lingkungan dan kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan.
Pemberdayaan sumber daya lahan (tanah, air, mineral, udara, dsb), sumber daya hayati (binatang, tumbuhan, manusia, dan makluk hidup lain), serta sumber daya lingkungan (interaksi antar makluk),.maupun 6M (man, money, material, machine, method, management) secara sinergis dan optimal agar seluruh stake holder mempunyai kemampuan, kemauan, kesempatan dan kewenangan untuk berkontribusi nyata dan mendapatkan manfaat optimal.
Peluang kedaulatan pangan sangat potensial untuk dicapai melalui program terpadu danmenyeluruh dengan ekstensifikasi pertanian, intensifikasi pertanian, diversifikasi pangan, revitalisasi industri pasca panen & pengolahan pangan, revitalisasi & restrukturisasi kelembagaan pangan, dan kebijakan makro. Lingkup keamanan pangan terdiri atas: infrastruktur, kelembagaan, sistem pengawasan, sistem manajemen, data dan indikator keberhasilan program keamanan pangan. Adanya impor pangan, harus mampu menjadi trigger pasar yang telah terbentuk di negeri sendiri untuk diproduksi sendiri bahkan, sehingga tidak tergantung lagi kepada dunia luar yang sebenarnya mempunyai sumber daya alam yang lebih rendah.
Perlu kerja keras, kerja cerdas, kerja iklas, kerjasama, membangun dalam jaringan ABCG yang harmonis dan sinergis, dengan kekuatan, kecepatan, dan komitmen penuh untuk kepentingan dan kesejateraan bersama.
Program Kedaulatan pangan dan energi bahan organik terbarukan dan berkelanjutan sangat penting untuk segera diimplementasikan, untuk menjaga dan menciptakan lingkungan dan kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan, namun diperlukan penyempurnaan radikal sehingga formulasinya harus lebih cerdas, luas, mendalam, futuristik, mempunyai roh EfSD, terstruktur, konsisten, kompak, menyeluruh, harmonis, utuh dan bercirikan outcomes based program.

Daftar Pustaka
– Agus, C. Sunarminto, B.H., Suhartanto, B., Pertiwiningrum, A., Setiawan, I. Wiratni and Pudjowadi, D. 2011. Integrated Bio-cycles Farming Ssystem for production of Bio-gas through GAMA DIGESTER, GAMA PURIFICATION AND GAMA COMPRESSING. Journal of Japan Institute of Energy 90 (11) : 1086-1090.
– Agus, C., Sari, E., Wibowo, N.A., Sasongko, A.B., Wulandari,D. and H H. Nurjanto. 2014. Organic Waste in Integrated Farming as a Source of Renewable Energy of Gama Bio-hydrogen by bacteria of Enterobacter aerogenes. Presenting paper at The Grand Renewable Energy 2014 (GRE2014) International Conference, 27 July – 1 August, 2014 at Tokyo Big Sight, Tokyo, Japan.
– Agus, C. 2012. Pengelolaan Bahan Organik: Peran dalam Kehidupan dan Lingkungan. KP4 dan BPFE UGM Press. Yogyakarta. 230 pp.
– Anonim, 2014. Earth Hours. http://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Hour akses 30 September 2014.
– BPS. 2014. Berita Resmi Statistik. No. 71/10/Th. XVII, 1 Oktober 2014
– Chan, G,L. 2006. Integrated Farming System. http://www.scizerinm.org/ chanarticle.html. Access 5 September 2014.
– International Federation of Organic Agriculture Movements, IFOAM. 1998. Basic standards for organic production and processing. IFOAM. Tholey-Theley. Germany.
– Koepf, H.H., Pettersson, B.D., and Schaumann, W. 1976. Biodynamic Agriculture. Anthroposophic Press. Spring Valley, New York.
– Stockdale, E.A. and W.R. Cookson. 2003. Sustainable farming systems and their impact on soil biological fertility-some case studies. In Abbott, L.K. and Murphy, D.V. (eds). 2003. Soil biological fertility. A key to sustainable land use in agriculture. Kluwer Ac. Pub. Dordrecht. Pp. 225-239.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *