BUMI YANG SAKIT “STROKE DAN DIARE LINGKUNGAN’ Oleh: Prof. Dr. Cahyono Agus

Bencana banjir bandang besar terjadi di beberapa tempat, temasuk Kemang Jakarta saat musim kemarau ini. Meski sebenarnya justru saatnya musim kekeringan karena tidak ada hujan sama sekali. Tahun ini, karena pengaruh La-Nina tingkat sedang, maka nyaris terjadi hujan sepanjang tahun. Badai La-Nina berlalu sambil menyemprotkan hujan lokal lebat dalam lokasi yang sempit dan sebentar saja. Temperatur bumi juga semakin meriang, sehingga suhu udara rata-rata bumi pada bulan Juli Agustus 2016 juga tercatat menjadi yang tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir.

Menurut UNEP, air hujan kira-kira hanya 0,003% dari jumlah air keseluruhan di bumi ini, yang sejumlah kira-kira 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³). Diharapkan mampu mengisi cadangan air kehidupan yang berada pada permukaan bumi. Yang hanya sebagian kecil saja yang dapat benar-benar dimanfaatkan oleh manusia dan makluk hidup lainnya. Namun demikian, sistem saluran “urat nadi air kehidupan bumi” sudah mengalami kerusakan sangat parah, banyak tersumbat, bocor, mengalami penyempitan. Karena penggundulan hutan, pembangunan gedung, penutupan pori tanah, penyempitan sungai, pembuangan sampah serta penyedotan air tanah.

Bumi telah mengalami “stroke” akut karena timbunan “kolesterol” bumi berupa sampah dalam jumlah besar yang telah menyumbat saluran “urat nadi air kehidupan bumi”. Indonesia memiliki masalah serius dengan sampah. Dinobatkan sebagai juara kedua di bumi ini, setelah China, dalam membuang sampah plastik yang terbawa sampai lautan. Indonesia membuang sampah plastik sebanyak 3,22 juta ton pada tahun 2010, sekitar 10% dari total sampah bumi. Sekitar 0,48 -1,29 juta metrik ton berakhir sebagai endapan sampah lautan, berupa botol, tas, sedotan, bungkus dan bahan plastik lain. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat pada tahun 2015, setara dengan 10 tas plastik penuh pada setiap jengkal kaki di garis pantai, berpotensi menjadi bencana lingkungan dan kehidupan yang serius.

Bumi juga telah mengalami “diare” akut, sehingga setiap asupan yang masuk ke pori-pori dan perut bumi, segera dimuntahkan lewat mulut bumi, sehingga mengguyur seluruh tubuh bumi. Menjadi banjir di seluruh permukaan kulit bumi. “Usus dan urat nadi’ bumi sudah tidak mampu lagi menampung aliran air kehidupan sehingga langsung hilang dalam pembuangan menuju pembuangan akhir di laut. Tanpa sempat diserap sari patinya dalam “usus duabelas jari bumi” untuk kehidupan dan lingkungan yang bermartabat. Bumi sudah sakit kronis yang parah, yang sulit untuk disembuhkan tanpa tindakan “bedah operasi frontal dan vital”.

“Bedah by pass jantung bumi” oleh dokter ahli lingkungan harus dilakukan dengan membuka kembali seluruh saluran, urat nadi, usus dan jaringan air kehidupan. Pembongkaran bangunan di sepanjang sungai, pembersihan sampah, pembukaan resapan air, pori tanah dan saluran urat nadi air kehidupan harus dilakukan secara frontal. Tanpa memandang bulu strata sosial pemilik bangunan yang menjadi sumber penyakit stroke bumi ini.

Seluruh penghuni bumi yang menjadi pasiennya harus melakukan “diet lingkungan” secara ketat agar “stroke bumi” tidak kambuh lagi. Manusia sebagai khalifah di bumi ini, justru telah mengakibatkan kualitas air dan udara menjadi kurang mendukung lingkungan dan kehidupan. “Stamina bumi” dijaga dengan penanaman hutan urban yang mampu langsung melayani peredaran air kehidupan bumi, disamping hutan pegunungan. Penghuni bumi harus rajin melakukan “jogging dan olah raga lingkungan” dengan segera menanam pohon secara serentak di seluruh permukaan bumi. Agar “nafas bumi” dan “peredaran air darah kehidupan” menjadi normal kembali. Karena pori-pori kulit permukaan bumi dalam tanah berhutan merupakan instalasi raksasa dalam memproduksi air bersih dunia. Permadani hijau ini mampu berfungsi sebagai penyaring dan penyimpan dalam siklus air kehidupan bumi. Paradigma baru bahwa hutan mempunyai multi fungsi sebagai pengatur air, udara, karbon, oksigen, pangan, pakan, pupuk, obat dan kebutuhan makluk hidup lainnya perlu dikembangkan. Agar bumi tidak semakin rusak, serta bisa sehat kembali.

 

 

Informasi Penulis:

Prof. Dr. Cahyono Agus

–  Guru Besar pada Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta dan Ketua GNI DIY-Jateng

–  HP: 081 5688 8041

–  Email: acahyono@ugm.ac.id

– web : http://acahyono.staff.ugm.ac.id