PENDIDIKAN KARAKTER SESUAI KODRAT ALAM Ki. Prof. Dr. Cahyono Agus

PENDIDIKAN KARAKTER SESUAI KODRAT ALAM

Ki. Prof. Dr. Cahyono Agus

 

Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hadjar Dewantara (KHD) menekankan bahwa proses pendidikan harus mendasarkan pada kodrat alam dan perkembangan siswa didik. Dasar Kodrat alam ini berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dengan jagad raya ciptaan Illahi lainnya di bumi ini. Manusia harus senantiasa mengatur dan menempatkan diri dalam hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. Keharmonisan hubungan tersebut akan mendukung tercapainya kesejahteraan kehidupan bersama. Namun apabila terjadi pertentangan, maka akan mengarah kepada kehancuran harkat manusia. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sesuai dengan kodrat perkembangan jiwa raga siswa agar terbangun budi pekerti yang tersistem dalam kesatuan dan keterpaduannya dengan alam.

KHD menulis pada Majalah Pusara edisi Februari 1954, bahwa pendidikan budi pekerti itu memang sangat diperlukan atau wajib disampaikan kepada peserta didik oleh semua pamong di sekolah. Untuk menjabarkan konsepsinya, KHD menawarkan empat tingkatan dalam menanamkan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter kepada peserta didik di sekolah, yaitu :  syariat, hakikat, tarikat, dan makrifat.

Syariat adalah metode yang cocok diberikan kepada peserta siswa didik di tingkat Taman Kanak-kanak (TK). Pendidikan karakter dasar diberikan dengan membiasakan berperilaku dan berbuat baik maupun melatih tanggung jawab pribadi menurut etika, norma, peraturan umum dalam masyarakat. Hakikat adalah metode yang cocok diberikan kepada peserta siswa didik di Sekolah Dasar.  Pada periode ini  peserta didik tetap dibiasakan untuk berperilaku dan berbuat baik menurut ketentuan umum, akan tetapi pada waktu yang bersamaan mulai diberi pengertian makna sederhana pada setiap pembelajaran dan kehidupan.

Tarikat adalah metode yang cocok diberikan kepada peserta didik di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada periode ini peserta didik dibiasakan berperilaku dan berbuat baik menurut ketentuan umum, diberikan pengertian pentingnya hal tsb. dilakukan  dan bersamaa dengan itu diberikan kegiatan yang cocok dengan situasi dan kondisi sekolah.

Makrifat cocok diberikan kepada peserta didik di Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan.  Dalam periode ini peserta didik disentuh pemahaman dan kesadarannya sehingga perilaku dan berbuat baik itu bukan semata-mata kebiasaan, akan tetapi memang telah memiliki kesadaran penuh untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Dalam hal berperilaku baik, maka peserta didik disamping mengerti maksudnya juga berperilaku dengan benar-benar dipraktekkan berdasarkan kesadaran diri. Menurut Ki Hadjar Dewantara, hal ini dapat dilakukan dengan melaksanakan “Tri-nga” (Ngerti = mengerti, ngrasa = merasa, nglakoni = melakukan).

Pendidikan karakter di Indonesia adalah pendidikan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan karakter bangsa pada dasarnya adalah usaha sadar dan terencana untuk membangun karakter bangsa melalui jalan pendidikan. Pendidikan karakter bangsa bukan sekedar proses persekolahan, akan tetapi suatu proses dalam format gerakan, dimana sistem persekolahan menjadi bagian integral dari gerakan pendidikan karakter bangsa. Membentuk karakter bangsa merupakan proses pembudayaan, memerlukan keterlibatan berbagai fihak melalui pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi kebangsaan dan kerakyatan.

Konsep dan ajaran luhur KHD sangat baik sebagai pendidikan karakter anak bangsa, namun demikian penerapannya belum bisa berjalan baik pada sistem pendidikan  bangsa Indonesia bahkan pada perguruan Tamansiswa sendiri, karena lebih mengacu pada sistem pendidikan barat. Perlu revitalisasi ajaran KHD sehingga lebih siap sebagai role model pada perbaikan sistem pendidikan karakter nasional bangsa Indonesia. Restorasi total terhadap sistem pendidikan nasional Indonesia diperlukan untuk membentuk karakter bangsa sesuai dengan kodrat anak yang cerdas, luas, mendalam, kreatif, inovatif, terintegrasi, komprehensif dan futuristik. Dengan tetap berakar kuat pada budaya dan karakter luhur bangsa Indonesia sendiri sehingga akan mampu menjadi cucuk lampah Kebangkitan Nasional II saat peringatan 100 tahun Hari Kemerdekaan Indonesia pada tahun 2045.

 

Ki. Prof. Dr. Cahyono Agus

Guru Besar UGM, Yogyakarta

Ketua Umum Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS)

Email : cahyonoagus@gadjahmada.edu

Web : acahyono.staff.ugm.ac.id

 

Artikel ini telah diterbitkan pada:

Agus, C. 2017. Pendidikan Karakter sesuai Kodrat Alam. Kolom Bernas Komunitas. Harian Bernas. Hari Selasa-Rabu, 29-30 Agustus 2017. Halaman 4.