BANJIR DI MUSIM KEMARAU Oleh: Prof. Dr. Cahyono Agus

BANJIR DI MUSIM KEMARAU

Oleh: Prof. Dr. Cahyono Agus

 

Di tengah panas terik musim kemarau yang menyengat warga masyarakat Pulau Jawa, banjir bandang justru menerjang wilayah kita. Banjir bandang di kawasan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada hari Jumat pagi (22/6/2018) telah terjadi saat anomali cuaca ini. Hujan menyebabkan longsor lereng disertai tumbangnya pohon-pohon di hutan di lereng Gunung Raung. Sehingga menyumbat aliran permukaan dan Sungai Badeng, Sungai Binau, dan Sungai Kumbo. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 328 rumah rusak berat, sedang dan ringan serta meninggalkan lumpur setinggi 1 meter. Tidak ada korban jiwa akibat bencana alam tersebut.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis perkiraan anomali cuaca dengan akan adanya curah hujan tinggi di musim kemarau selama 7 hari sejak 20 Juni. Anomali cuaca ini terjadi akibat adanya pola pertemuan aliran udara dari Samudera Pasifik yang bertekanan rendah dengan udara basah dan sirkulasi siklonik dari Samudera Hindia. Kondisi inilah yang menyebabkan peningkatan cuaca ekstrim, seperti hujan sedang-lebat yang disertai petir dan kilat serta angin kencang di wilayah Pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB dan Sulawesi. Masyarakat juga dihimbau waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang/roboh. Data bencana menunjukkan 85 persen bencana di Indonesia adalah faktor hidrometeorologi.

Beberapa waktu yang lalu, di Jazirah Arab yang merupakan gurun pasir yang dikenal selalu panas dan tandus ternyata juga mengalami banjir bandang. Cuaca unik seperti itu juga telah terjadi sebelumnya dengan adanya fenomena hujan salju bahkan aliran sungai pasir di padang pasir.

Jerman telah mengalami suhu bulan Mei dan April 2018 terpanas sejak 1801, yang berkaitan dengan perubahan iklim. Disamping juga tercatat peristiwa cuaca ekstrim seperti hujan lebat dan badai petir yang parah. Hari paling panas dalam sejarah adalah tanggal 10 Juli 1913 di Death Valley AS di dekat Furnace Creek di negara bagian Kalifornia, suhu maksimal mencapai 56,7°C. Dengan semakin banyaknya peristiwa semacam ini, maka menuntut manusia untuk mengambil semua langkah adaptasi yang intensif dan upaya untuk melawan perubahan iklim.

Cuaca telah menjadi kekuatan yang mematikan. Untungnya, perkiraan cuaca belakangan semakin akurat. Iklim yang tidak stabil dapat mengganggu stabilitas masyarakat. Konsekuensi pemanasan global tidak hanya menyebabkan kerusakan ekonomi namun juga mengancam masyarakat termiskin di dunia. Banjir bandang makin sering terjadi di kawasan di seluruh dunia. Kemarau berkepanjangan dan badai petir juga semakin sering menghantam pelosok bumi ini.

Studi teranyar mencatat percepatan laju kerusakan hutan di dunia. Jika tidak berubah, sebagian negara di Asia Tenggara akan kehilangan semua kawasan hutannya pada 2040. Laju deforestasi di bumi 2014-2016 melalui analisa citra satelit mencapai 20% lebih cepat dibanding dekade silam. Artinya dunia kehilangan tutupan hutan hampir seluas pulau Jawa setiap tahunnya. Laju kerusakan hutan pada 17 tahun pertama abad ini mencapai 200 kilometer persegi setiap hari. Padahal ekosistem hutan diyakini mempunyai kodrat alam yang mampu berfungsi baik sebagai instalasi raksasa air kehidupan, penyedia oksigen, penyerap karbondioksida, pengatur temperatur bumi, penyeimbang tekanan udara, serta penyangga lingkungan dan kehidupan di bumi

Lewat jurnal ilmiah Nature, ilmuwan mewanti-wanti betapa manusia sudah akan kehabisan waktu untuk mencegah laju perubahan iklim yang menjadi tidak terkendali. Kita hanya punya waktu tiga tahun untuk menyelamatkan bumi dari ancaman kekeringan, banjir, gelombang panas dan kenaikan permukaan air laut. Mereka mengusulkan rencana enam butir kepada dunia internasional. Meliputi energi terbarukan, infrastruktur nol emisi, transportasi ramah energi, penghijauan lahan, efisiensi industri sarat emisi dan pendanaan mitigasi iklim.

Konsep filosofi Hamemayu Hayuning Bawana perlu diterapkan untuk menjadikan jagad biru rahayu, toto-titi-tentrem-rahayu, kerto raharjo dan lestari. Sehingga terbangun lingkungan dan kehidupan yang lebih bermartabat dan termuliakan.

 

 

Informasi Penulis:

Prof. Dr. Cahyono Agus

– Guru Besar UGM Yogyakarta

– Ketum PP PKBTS (Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa)

– Ketua Green Network Indonesia (GNI), wilayah DIY-Jateng

–  HP: 081 5688 8041

–  Email: acahyono@ugm.ac.id

–  Web: acahyono.staff.ugm.ac.id

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *